30 September 2026
Jadi Atasan Bukan Hanya Memberi Perintah, Bangun Kedekatan dengan Karyawan
Oleh AA
Menjalankan sebuah usaha tidak hanya membutuhkan strategi bisnis dan modal, tetapi juga kemampuan seorang pemilik usaha dalam membangun hubungan yang baik dengan orang-orang yang bekerja bersamanya.
Dosen Technopreneurship Universitas Banten Jaya (UNBAJA), Waliadi Gunawan, mengatakan seorang pemilik usaha atau atasan sebaiknya tidak hanya hadir untuk memberikan perintah kepada karyawan.
Komunikasi yang terbuka dan perhatian terhadap karyawan justru dapat menjadi bagian penting dalam membangun suasana kerja yang nyaman.
Menurut Waliadi, karyawan yang setiap hari berhadapan langsung dengan pelanggan memiliki pengalaman yang sangat berharga. Mereka mengetahui apa yang disukai konsumen, apa yang membuat pelanggan merasa nyaman, hingga hal-hal kecil yang mungkin luput dari perhatian pemilik usaha.
"Kalau kita menjadi owner atau bos, jangan hanya memberi perintah. Bangun komunikasi yang baik dengan karyawan. Tanyakan kepada mereka, apa yang sebenarnya dibutuhkan pembeli supaya mereka merasa nyaman," ujar Waliadi.
Ia mencontohkan, masukan tersebut bisa berasal dari hal sederhana. Misalnya, pelanggan membutuhkan tempat duduk ketika menunggu pesanan, membutuhkan pelayanan yang lebih cepat, atau membutuhkan fasilitas tertentu agar merasa lebih nyaman saat berada di tempat usaha.
Hal-hal sederhana seperti itu, menurut Waliadi, justru bisa diketahui lebih cepat oleh karyawan karena mereka berinteraksi langsung dengan pelanggan setiap hari.
"Kadang-kadang yang di lapangan lebih tahu. Misalnya pembeli menunggu, ternyata mereka membutuhkan kursi. Hal sederhana seperti itu bisa kita tanyakan kepada karyawan. Jangan sampai owner merasa sudah tahu semuanya," katanya.
Selain mendengarkan masukan, Waliadi menilai seorang atasan juga perlu memberikan apresiasi kepada karyawan yang menunjukkan kinerja baik. Apresiasi tersebut tidak harus selalu berupa bonus besar atau hadiah mahal.
Menurutnya, perhatian sederhana dapat memiliki makna tersendiri bagi karyawan. Pemilik usaha bisa sesekali mengajak karyawan makan bersama atau sekadar mentraktir makanan sederhana yang ada di sekitar tempat usaha.
"Apresiasi itu tidak harus mahal. Misalnya ada tukang bakso atau cuanki lewat, kita traktir. Sambil makan, kita ngobrol, bercanda, tertawa bersama. Mungkin nilainya tidak seberapa, tetapi kebersamaan seperti itu bisa membuat karyawan merasa dihargai," ujar Waliadi.
Waliadi juga mengingatkan bahwa di balik seorang karyawan terdapat kehidupan dan keluarga yang juga perlu dihargai. Seorang atasan tidak harus mencampuri urusan pribadi karyawan, tetapi menunjukkan perhatian secara wajar dapat menjadi bentuk kepedulian yang berarti.
Pertanyaan sederhana seperti menanyakan kabar pasangan, kesehatan anak, atau bagaimana perkembangan sekolah anak, menurutnya, dapat menjadi cara untuk membangun hubungan yang lebih dekat.
"Sesekali kita bisa bertanya, istri atau suaminya sehat? Anak bagaimana? Sekolahnya bagaimana? Tidak perlu terlalu jauh masuk ke persoalan pribadi. Cukup menunjukkan bahwa kita peduli," katanya.
Bagi Waliadi, hubungan yang baik antara pemilik usaha dan karyawan bukan berarti menghilangkan batas antara atasan dan bawahan. Justru, hubungan tersebut perlu dibangun dengan tetap menjaga profesionalitas, tetapi disertai rasa saling menghargai sebagai sesama manusia.
Ia menilai ketika komunikasi berjalan dua arah, karyawan tidak hanya menjadi orang yang menjalankan perintah, tetapi juga dapat menjadi sumber ide bagi perkembangan usaha. Masukan dari mereka dapat membantu pemilik melihat kondisi bisnis dari sudut pandang yang berbeda.
Pada akhirnya, keberhasilan sebuah usaha tidak hanya ditentukan oleh produk, modal, maupun strategi pemasaran. Ada manusia di balik setiap pelayanan kepada pelanggan. Karena itu, bagaimana seorang pemilik usaha memperlakukan karyawannya juga menjadi bagian dari perjalanan membangun bisnis yang berkelanjutan.
"Jangan merasa karena kita owner, kita paling tahu semuanya. Dengarkan orang yang bekerja bersama kita. Hargai mereka, ajak bicara, dan sesekali tertawa bersama. Bisnis memang harus profesional, tetapi jangan sampai sisi manusianya hilang," tutur Waliadi.