18 September 2026
Pencarian Arupadhatu I Dihentikan pada Hari ke-10, Pemantauan Tetap Dilakukan
Oleh DM
PANDEGLANG � Operasi pencarian dan pertolongan (SAR) terhadap delapan orang yang hilang bersama kapal Arupadhatu I di perairan Selat Sunda resmi dihentikan pada hari ke-10 pencarian, Kamis (17/9/2026).
Penghentian tersebut dilakukan setelah masa perpanjangan operasi selama tiga hari berakhir. Selama proses pencarian, Tim SAR Gabungan belum menemukan tanda-tanda keberadaan kapal maupun delapan orang yang berada di dalamnya, yang terdiri dari jurnalis dan anak buah kapal (ABK).
Gubernur Banten Andra Soni mengatakan keputusan penghentian operasi diambil setelah Tim SAR Gabungan melakukan evaluasi terhadap proses pencarian yang telah berlangsung selama sepuluh hari.
�Secara umum tidak ditemukan tanda-tanda keberadaan kapal maupun penumpang atau awak yang berada di kapal tersebut,� ujar Andra Soni di Carita, Kabupaten Pandeglang, Kamis (17/9/2026).
Selama operasi berlangsung, Tim SAR Gabungan menemukan 13 objek di sejumlah titik pencarian. Temuan tersebut antara lain berupa jaket pelampung (life jacket), terpal, helm, dan sejumlah material lainnya.
Namun, setelah dilakukan pemeriksaan dan konfirmasi oleh unsur Polairud, seluruh objek tersebut dinyatakan tidak berkaitan dengan kapal Arupadhatu I.
�Dari 13 objek yang ditemukan, setelah dicek dan diteliti, dinyatakan tidak terhubung dengan Arupadhatu I,� kata Andra.
Andra menjelaskan, penghentian operasi SAR aktif merupakan kewenangan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) selaku koordinator operasi SAR Gabungan dengan mempertimbangkan efektivitas pencarian.
�Dengan berat hati, pelaksanaan operasi SAR Gabungan dinyatakan dihentikan,� ujarnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh unsur yang terlibat dalam proses pencarian, mulai dari TNI, Polri, pemerintah daerah, relawan hingga masyarakat yang telah membantu sejak hari pertama.
Meski operasi SAR aktif dihentikan, pemantauan terhadap keberadaan Arupadhatu I dan delapan orang yang berada di dalamnya tetap dilakukan.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten Al Amrad mengatakan pemantauan pasif akan dilakukan melalui sejumlah instrumen dan unsur yang berada di wilayah perairan Selat Sunda. Pemantauan melibatkan Sistem Pemantauan Pergerakan Kapal (VTS), armada Pangkalan TNI AL (Lanal), Polairud, serta kapal-kapal niaga yang melintas.
�Operasi SAR tidak berhenti sampai di sini. Kami tetap melakukan pemantauan melalui berbagai unsur yang berpatroli maupun kapal yang melintas,� ujar Al Amrad.
Menurutnya, pemantauan tersebut dilakukan untuk mendapatkan informasi baru apabila terdapat tanda-tanda keberadaan Arupadhatu I maupun delapan orang yang hingga kini belum ditemukan.
�Apabila ke depan ditemukan tanda-tanda keberadaan mereka, operasi SAR akan langsung kami buka kembali,� tegasnya.