PPNK Angkatan 75 Lemhannas RI Perkuat Nilai Kebangsaan di Tengah Dinamika Global

PPNK Angkatan 75 Lemhannas RI Perkuat Nilai Kebangsaan di Tengah Dinamika Global

Jakarta – Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI) kembali memperkuat fondasi kebangsaan melalui Program Pemantapan Nilai-Nilai Kebangsaan (PPNK) Angkatan ke-75 Tahun 2026. Program yang berlangsung pada 21–28 September 2026 di Lemhannas RI, Jakarta, diikuti 110 peserta dari berbagai daerah dan latar belakang profesi.

Para peserta berasal dari unsur birokrat, akademisi, tokoh masyarakat, organisasi profesi, TNI, dan Polri. Komposisi lintas profesi tersebut menjadikan PPNK bukan sekadar ruang pembelajaran, tetapi juga forum perjumpaan gagasan dan pengalaman dari berbagai elemen strategis bangsa.

PPNK Angkatan ke-75 dibuka Gubernur Lemhannas RI Dr. H. TB. Ace Hasan Syadzily, M.Si., pada Senin (21/9/2026).

Dalam pembukaan program, Ace Hasan menekankan bahwa PPNK menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai elemen bangsa sekaligus membangun kesadaran bahwa masa depan Indonesia merupakan tanggung jawab bersama.

Menurutnya, persatuan perlu terus diperkuat agar Indonesia mampu membangun kemandirian, berdiri di atas kekuatan sendiri, memperoleh penghormatan dalam pergaulan global, serta mengambil peran penting di tingkat internasional.

Empat Konsensus Dasar Menjadi Fondasi

PPNK menjadi salah satu instrumen strategis Lemhannas RI dalam memperkuat pemahaman dan aktualisasi nilai-nilai kebangsaan yang bersumber dari empat konsensus dasar bangsa, yakni Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), serta Sesanti Bhinneka Tunggal Ika.

Pemantapan nilai kebangsaan semakin relevan ketika Indonesia menghadapi perubahan lingkungan strategis yang berlangsung cepat. Persaingan geopolitik, perkembangan teknologi digital dan kecerdasan artifisial, disinformasi, transformasi ekonomi global, hingga persoalan ketahanan pangan, energi dan sumber daya manusia menuntut ketangguhan nasional yang tidak hanya bertumpu pada kekuatan material, tetapi juga karakter dan identitas kebangsaan.

Karena itu, rangkaian PPNK Angkatan ke-75 tidak berhenti pada pembahasan konseptual mengenai Pancasila dan wawasan kebangsaan.

Peserta memperoleh pembekalan mengenai perkembangan lingkungan strategis, Wawasan Nusantara, ketahanan nasional dan kepemimpinan nasional. Program juga membahas implementasi nilai kebangsaan, kolaborasi dan kerja sama, tantangan disrupsi teknologi, dinamika ekonomi masa depan, serta berbagai persoalan aktual bangsa.

Metode pendidikan dikembangkan melalui pembekalan, diskusi dan kerja kelompok hingga proses internalisasi nilai-nilai kebangsaan. Pada akhir rangkaian kegiatan, peserta dijadwalkan mengikuti Simulasi Internalisasi Nilai-Nilai Kebangsaan, final project, kontemplasi kebangsaan, api unggun, dan upacara penutupan pada 28 September 2026.

Kebangsaan Harus Hadir dalam Kehidupan Nyata

Keberagaman latar belakang peserta menjadi salah satu kekuatan PPNK Angkatan ke-75. Interaksi antara akademisi, birokrat, TNI, Polri, pelaku profesi dan tokoh masyarakat membuka ruang bagi peserta untuk melihat persoalan nasional dari perspektif yang lebih luas.

Hj. Rita Fitria, S.Ag., M.Pd., Wakil Ketua Umum DPP Pengajian Al-Hidayah dan Ketua Persatuan Istri Anggota (Perista) Lemhannas RI sekaligus peserta PPNK Angkatan ke-75, menilai program tersebut menjadi ruang penting untuk memperdalam pemahaman sekaligus mengaktualisasikan nilai-nilai kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Rita, keikutsertaannya sebagai peserta memberikan kesempatan untuk belajar, berdiskusi, dan bertukar pandangan bersama peserta dari berbagai latar belakang profesi serta daerah. Keragaman perspektif tersebut dinilai memperkaya pemahaman mengenai tantangan kebangsaan dan pentingnya memperkuat persatuan di tengah dinamika perubahan zaman.

“PPNK ini menjadi momentum penting untuk kembali merefleksikan nilai-nilai kebangsaan, bukan hanya sebagai pengetahuan, tetapi sebagai pedoman dalam bersikap dan mengambil keputusan. Nilai-nilai tersebut harus diwujudkan melalui keteladanan, kepedulian, gotong royong, serta kontribusi nyata di lingkungan keluarga, organisasi, dan masyarakat,” ujar Rita.

Ia menambahkan, penguatan nilai kebangsaan perlu dilakukan secara berkelanjutan agar tetap relevan bagi seluruh lapisan masyarakat, khususnya generasi muda. Menurutnya, tantangan era digital, derasnya arus informasi, serta perubahan sosial dan geopolitik menuntut setiap warga negara memiliki karakter kebangsaan yang kuat, berpikir kritis, dan tetap berpegang pada Pancasila, UUD 1945, NKRI, serta Bhinneka Tunggal Ika.

Sebagai peserta PPNK, Rita berharap pengalaman dan pembelajaran selama mengikuti program tersebut dapat diterapkan dalam pelaksanaan tugas serta menjadi inspirasi bagi lingkungan di sekitarnya.

“Semangat kebangsaan harus terus dihidupkan melalui tindakan nyata. Setiap peserta memiliki tanggung jawab untuk membawa nilai-nilai yang diperoleh dalam PPNK ke lingkungan masing-masing, sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat dan bangsa,” katanya.

Perspektif tersebut penting karena ketahanan nasional pada akhirnya tidak hanya dibangun melalui institusi negara. Ketahanan juga tumbuh dari keluarga, dunia pendidikan, lingkungan kerja dan ruang sosial tempat nilai persatuan, toleransi, gotong royong serta tanggung jawab kebangsaan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Asih Kurnianingsih: Nilai Kebangsaan Harus Dibawa Kembali ke Kampus

Peserta PPNK Angkatan ke-75 dari kalangan akademisi, Asih Kurnianingsih dari Universitas Banten Jaya (UNBAJA) yang saat ini juga menjabat sebagai Komisaris PT. Puspa Lestari Elektrikal, menilai perguruan tinggi mempunyai posisi strategis dalam membentuk cara berpikir generasi penerus bangsa.

“Bagi akademisi, pemantapan nilai-nilai kebangsaan tidak cukup berhenti sebagai pemahaman di ruang pelatihan. Nilai itu harus kita bawa kembali ke kampus, masuk dalam proses pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, bahkan dalam cara kita membangun diskusi dengan mahasiswa,” ujar Asih.

Menurut Asih, perkembangan geopolitik, teknologi digital, kecerdasan artifisial, disinformasi, hingga perubahan ekonomi global membuat pembicaraan mengenai kebangsaan justru semakin relevan bagi dunia akademik.

“Mahasiswa hari ini berhadapan langsung dengan dunia tanpa batas melalui teknologi. Tantangan akademisi adalah bagaimana membangun generasi yang berpikiran global, kritis dan adaptif, namun tetap memahami identitas, kepentingan nasional, serta tanggung jawabnya sebagai warga negara Indonesia,” katanya.

Asih menilai pertemuan lintas profesi dalam PPNK juga memberikan nilai strategis karena peserta dapat saling bertukar perspektif. Persoalan bangsa dengan demikian tidak dibaca semata-mata dari sudut pandang satu institusi atau profesi.

Menyiapkan Agen Perubahan

Pemantapan nilai-nilai kebangsaan memiliki posisi penting dalam menghadapi tantangan menuju Indonesia Emas 2045. Lemhannas RI sebelumnya menegaskan bahwa bangsa yang maju membutuhkan fondasi ideologi dan karakter kebangsaan yang kuat.

Empat konsensus dasar kebangsaan karena itu tidak cukup ditempatkan sebagai konsep normatif. Nilai Pancasila, konstitusi, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika perlu hadir dalam proses pengambilan keputusan, kepemimpinan, pendidikan, kehidupan sosial hingga pelayanan publik.

Melalui PPNK, peserta diharapkan tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi mampu menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing.

Tantangan tersebut semakin besar di tengah derasnya arus informasi digital. Kemampuan mengakses informasi global perlu berjalan beriringan dengan literasi, daya kritis, karakter, dan kesadaran terhadap kepentingan nasional.

Pada titik inilah PPNK Angkatan ke-75 memperoleh relevansinya. Program ini mempertemukan 110 orang dengan latar belakang berbeda dalam satu ruang kebangsaan, untuk mendiskusikan Indonesia bukan hanya sebagaimana adanya hari ini, tetapi juga Indonesia yang hendak dibangun pada masa mendatang.

Keberagaman profesi, daerah dan pengalaman para peserta sekaligus menjadi gambaran kecil Indonesia: berbeda latar belakang, tetapi dipertemukan oleh tanggung jawab yang sama untuk menjaga persatuan, memperkuat ketahanan nasional, serta memastikan nilai-nilai kebangsaan tetap hidup di tengah perubahan zaman.

PPNK Angkatan ke-75 dijadwalkan berakhir pada Senin, 28 September 2026. Setelah kembali ke institusi dan daerah masing-masing, tantangan sesungguhnya bagi para peserta adalah menerjemahkan pengetahuan dan pengalaman selama mengikuti program menjadi tindakan nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat, bangsa dan negara.

BAGIKAN ARTIKEL INI

WhatsApp Facebook X