03 October 2026
Quarter Life Crisis: Ketika Usia Muda Mulai Dipenuhi Pertanyaan tentang Masa Depan
Oleh SA
KOTA SERANG - Memasuki usia 20-an sering dianggap sebagai masa yang penuh kebebasan dan kesempatan. Namun di balik itu, banyak orang justru mulai dipenuhi pertanyaan tentang masa depan. Karier akan dibawa ke mana, kapan harus menikah, apakah pekerjaan saat ini sudah tepat, sampai kekhawatiran merasa tertinggal dari teman sebaya. Kondisi seperti ini kerap disebut sebagai quarter life crisis. Istilah tersebut menggambarkan fase ketika seseorang mulai merasa bingung, ragu, atau cemas terhadap arah hidupnya, terutama saat memasuki masa transisi dari dunia pendidikan menuju kehidupan dewasa yang lebih mandiri.
Tekanan sering kali muncul karena seseorang merasa harus memiliki jawaban atas semuanya dalam waktu yang bersamaan. Di usia yang masih relatif muda, tuntutan untuk memiliki pekerjaan yang stabil, penghasilan yang cukup, hubungan yang serius, bahkan pencapaian tertentu bisa terasa berat. Media sosial juga dapat memperkuat perasaan tersebut. Melihat teman seusia yang tampak sudah memiliki pekerjaan mapan, menikah, membeli rumah, melanjutkan pendidikan, atau mencapai berbagai hal besar dapat membuat seseorang merasa hidupnya berjalan lebih lambat.
Padahal, perjalanan hidup setiap orang tidak selalu berada pada garis waktu yang sama. Ada yang menemukan pekerjaan yang cocok sejak awal, ada yang harus beberapa kali berpindah arah. Ada yang menikah muda, sementara yang lain memilih fokus pada pendidikan atau karier terlebih dahulu. Quarter life crisis juga tidak selalu menjadi sesuatu yang negatif. Fase ini bisa menjadi momen untuk mengenali diri sendiri lebih dalam, mengevaluasi pilihan hidup, serta memahami apa yang sebenarnya dianggap penting.
Daripada terus membandingkan diri dengan orang lain, seseorang dapat mulai dari langkah yang lebih sederhana. Menentukan prioritas, membuat target yang realistis, mencoba hal baru, dan menerima bahwa perubahan arah bukan berarti gagal dapat membantu menghadapi ketidakpastian. Berbicara dengan orang yang dipercaya juga dapat membantu ketika pikiran mulai terasa penuh. Terkadang, seseorang tidak membutuhkan jawaban instan, tetapi membutuhkan ruang untuk bercerita dan melihat masalah dari sudut pandang yang berbeda.
“Tidak semua hal harus selesai di usia 20-an. Hidup bukan perlombaan tentang siapa yang paling cepat mencapai tujuan.” Pada akhirnya, quarter life crisis adalah salah satu fase yang dapat muncul ketika seseorang sedang mencari arah hidup. Merasa belum tahu jawabannya bukan berarti tidak memiliki masa depan. Justru dari berbagai pertanyaan itulah seseorang perlahan dapat memahami kehidupan seperti apa yang ingin dijalani.